Jakarta – Insiden tragis menimpa Affan Kurniawan (27), seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tewas setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat kerusuhan di sekitar kompleks DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (27/8/2025) malam. Fakta yang terungkap menyebutkan bahwa Affan bukan bagian dari demonstran, melainkan sedang menjalankan orderan pelanggan.
Video viral di media sosial memperlihatkan detik-detik rantis Brimob menabrak Affan. Kendaraan tersebut sempat berhenti sesaat setelah kejadian, namun kemudian melanjutkan perjalanan dan kabur dari lokasi yang tengah dipenuhi massa.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan permintaan maaf resmi kepada keluarga korban, komunitas ojol, dan masyarakat. “Kami turut berduka cita yang mendalam atas meninggalnya almarhum Affan. Kami meminta maaf dan memastikan akan memproses anggota yang terlibat sesuai aturan hukum dan kode etik Polri,” ujarnya dalam keterangan pers.
Hal senada disampaikan Dankor Brimob Komjen Imam Widodo. Ia menegaskan bahwa pihaknya berduka dan menyesalkan peristiwa tersebut. “Kami bertanggung jawab, dan anggota yang terlibat sudah diserahkan ke Divisi Propam untuk menjalani pemeriksaan,” katanya.
Berdasarkan data kepolisian, terdapat tujuh anggota Brimob yang berada di dalam rantis saat insiden terjadi, termasuk Bripka R yang bertindak sebagai pengemudi. Ketujuhnya kini diamankan di Divisi Propam dan dikenai penempatan khusus (patsus) selama 20 hari untuk proses penyelidikan lebih lanjut.
Profil Singkat Affan Kurniawan
Affan dikenal sebagai sosok muda pekerja keras. Sehari-hari ia mengandalkan profesinya sebagai pengemudi ojek online untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya. Ia tinggal di kawasan Jakarta Timur bersama istri dan seorang anak balita. Menurut rekan sesama ojol, Affan sedang menerima orderan penumpang saat insiden maut itu terjadi.
Gelombang Kemarahan Publik
Kematian Affan memicu gelombang kemarahan publik. Ribuan pengemudi ojol dan masyarakat dari berbagai elemen menyuarakan protes di media sosial dengan tagar #KeadilanUntukAffan. Kemarahan itu meluas ke jalanan dan berujung pada aksi unjuk rasa di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, hingga Makassar.
Sejumlah aksi bahkan berubah menjadi kerusuhan dengan pembakaran pos polisi, perusakan fasilitas umum, dan bentrokan antara massa dengan aparat. Publik menilai insiden ini sebagai bentuk kelalaian fatal aparat yang tidak boleh dibiarkan begitu saja.
Hingga kini, aparat masih melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan kronologi lengkap dan menetapkan langkah hukum atas peristiwa yang menewaskan Affan Kurniawan tersebut.