Kasus tragis yang menimpa pengemudi ojek online, Affan, kembali memunculkan fakta baru dari pihak kepolisian. Salah satu anggota Brimob yang terlibat dalam insiden penabrakan mengaku secara tegas kepada penyidik bahwa tindakannya dilakukan dengan tujuan menyingkirkan korban.
“Saya hantam saja, kalau enggak selesai sudah,” ujar anggota Brimob tersebut, mengungkapkan kronologi yang terjadi saat mobil taktis (rantis) menabrak Affan hingga tewas.
Salah seorang anggota Brimob juga mengaku sudah tak memperhatikan situasi di sekitarnya ketika mobil melaju menerobos kerumunan massa. Menurut dia, jalanan sudah dipenuhi dengan batu yang berserakan.
“Saya tidak mengerti posisi orang karena saya tidak, tidak memperhatikan orang kanan kiri, Pak,” kata dia kepada penyidik Propam Polri sebagaimana dilihat, Jumat (29/8).
Hal senada dikatakan oleh anggota Brimob lainnya yang juga mengaku tak lagi memperhatikan situasi di sekitar. Dia memaksakan mobil agar terus melaju karena situasi sudah tak kondusif. Menurutnya, jika mobil tak terus melaju, maka polisi yang ada di dalam mobil rantis Brimob bakal diamuk massa.
“Jadi saya hantam saja. Karena kalau nggak saya terobos itu selesai, Pak, sudah, massa penuh,” ucap dia.
Sebelumnya diberitakan, pengemudi mobil rantis ialah Bripka R. Bripka R duduk di bagian depan mobil bersama Kompol C. Sementara itu, di bangku bagian belakang, duduk Aipda M, Briptu D, Bripda M, Bharaka J, dan Bharaka Y.
Insiden ini terjadi di tengah kerumunan warga yang tengah mengawal pengamanan di lokasi, membuat peristiwa tersebut menjadi sorotan publik. Pengakuan ini menambah kemarahan masyarakat, yang sebelumnya sudah tersulut oleh video dan foto mobil rantis saat menabrak pengendara ojol tersebut.
Setelah kejadian ini, gelombang protes meluas ke berbagai kota besar di Indonesia. Demonstrasi yang awalnya menuntut keadilan untuk Affan berubah menjadi aksi rusuh, memaksa aparat untuk menambah pengamanan di sejumlah titik.
Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam terkait insiden tersebut, termasuk menelusuri siapa yang memberikan perintah dalam operasi yang berujung pada kematian Affan.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai prosedur penggunaan kendaraan taktis dalam pengamanan masyarakat serta etika aparat di lapangan. Publik menuntut transparansi dan pertanggungjawaban dari pihak berwenang agar kejadian serupa tidak terulang.