Royalti Lagu: Antara Keadilan bagi Pencipta dan Kerumitan Sistem

- Jurnalis

Senin, 11 Agustus 2025 - 07:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Carut Marut Royalti Lagu

Carut Marut Royalti Lagu

Polemik royalti lagu di Indonesia seolah tak pernah benar-benar reda. Di satu sisi, pencipta lagu berhak mendapatkan kompensasi atas karya mereka—sebuah bentuk penghargaan yang diatur undang-undang dan diakui secara moral. Di sisi lain, mekanisme perhitungan, penarikan, dan penyaluran dana sering kali membingungkan, bahkan bagi pelaku industri itu sendiri.

Secara sederhana, royalti dihitung berdasarkan jumlah pemutaran atau penggunaan lagu di ruang publik maupun media digital. Di platform streaming, rumusnya umumnya melibatkan pro-rata share: total pendapatan dari langganan dan iklan dibagi jumlah total pemutaran, lalu dikalikan jumlah stream lagu tertentu. Di ranah offline, seperti kafe, hotel, atau stasiun TV, perhitungannya memakai tarif lisensi tahunan atau bulanan yang ditentukan oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), lalu dibagi sesuai data penggunaan lagu.

Dana yang terkumpul dari pengguna (baik individu maupun institusi) akan masuk ke LMKN atau Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) terkait. Di sinilah muncul lapisan kerumitan: data pemutaran sering kali tak lengkap, metode pelaporan bervariasi, dan distribusi dana kerap memunculkan pertanyaan. Idealnya, setiap rupiah yang dibayarkan oleh pengguna musik akan ditelusuri kembali ke pencipta lagu yang karyanya digunakan. Namun, realitanya, masih ada gap antara transparansi yang diharapkan dan yang terjadi.

Baca Juga :  Concorde, Pesawat Supersonik Yang Menjadi Simbol Kecepatan Dan Kemewahan Dalam Dunia Penerbangan

Polemik muncul bukan hanya karena nominal yang diterima pencipta dianggap kecil, tetapi juga karena kurangnya keterbukaan dalam proses. Apakah dana benar-benar dibagikan sesuai proporsi pemakaian? Bagaimana nasib royalti dari karya yang pemutarnya sulit dilacak? Dan mengapa sistem ini seakan “tertutup” bagi pencipta untuk memverifikasi?

Idealnya, ada sistem yang dibangun secara transparan dan wajib digunakan. Bayangkan satu aplikasi resmi yang menjadi standar nasional untuk pemutar musik di kafe, restoran, atau tempat umum lain. Aplikasi ini terhubung langsung ke server pusat yang secara real time mengumpulkan data lagu apa saja yang diputar dan berapa kali setiap lagu diputar. Data tersebut otomatis menjadi dasar perhitungan royalti, menghilangkan celah manipulasi atau laporan manual yang rawan salah. Lebih penting lagi, aplikasi ini seharusnya dapat diakses oleh para pencipta lagu, sehingga mereka dapat memantau secara langsung performa karyanya dan memastikan perhitungan royalti yang adil.

Baca Juga :  Jeruk Mandarin, Kandungan Gizi Dan Manfaatnya

Saya berpendapat, kunci penyelesaian bukan sekadar menaikkan tarif royalti atau memaksa pengguna musik membayar lebih, melainkan membangun sistem yang transparan, terukur, dan dapat diaudit. Pencipta lagu berhak tahu berapa kali lagunya diputar dan dari mana uangnya berasal. Di era digital, teknologi pelacakan sudah ada—tinggal kemauan dan integritas lembaga pengelola untuk menggunakannya secara optimal.

Tanpa transparansi, royalti hanyalah angka di atas kertas; tanpa keadilan, musik hanyalah hiburan yang menguntungkan segelintir pihak. Jika kita mengaku menghargai karya seni, maka menghargai hak ekonomi penciptanya adalah kewajiban, bukan pilihan.

Follow WhatsApp Channel inikanaku.info untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fenomena Bediding: Suhu Dingin Selimuti Indonesia Akhir Agustus 2025
Kebijakan Royalti Bikin Tompi Geram: Nyanyi Lagu Sendiri Harus Bayar Lebih Gede dari Pendapatan Tahunan
Boeing 757-300 Maskapai Jerman Terbakar di Udara, 273 Penumpang Selamat
Sesar Lembang Makin Menggeliat, BMKG: Sesar Aktif dan Perlu Dikhawatirkan
Indonesia Kembali Dilanda Suhu Dingin Agustus 2025, Dampaknya Bagi Warga, Ternak, dan Budidaya Ikan
Jessica Radcliffe Ramai Jadi Perbincangan, Disebut Tewas Dimakan Paus di Jepang — Fakta Sebenarnya
Desa Tersepi di Dunia: Dihuni 1 Orang yang Merangkap Wali Kota
Julian Brown, Penemu Bahan Bakar dari Plastik Dikabarkan Menghilang
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Agustus 2025 - 11:45 WIB

Fenomena Bediding: Suhu Dingin Selimuti Indonesia Akhir Agustus 2025

Kamis, 21 Agustus 2025 - 11:54 WIB

Kebijakan Royalti Bikin Tompi Geram: Nyanyi Lagu Sendiri Harus Bayar Lebih Gede dari Pendapatan Tahunan

Rabu, 20 Agustus 2025 - 13:28 WIB

Boeing 757-300 Maskapai Jerman Terbakar di Udara, 273 Penumpang Selamat

Selasa, 19 Agustus 2025 - 18:58 WIB

Sesar Lembang Makin Menggeliat, BMKG: Sesar Aktif dan Perlu Dikhawatirkan

Sabtu, 16 Agustus 2025 - 11:29 WIB

Indonesia Kembali Dilanda Suhu Dingin Agustus 2025, Dampaknya Bagi Warga, Ternak, dan Budidaya Ikan

Info Terbaru

Healthy Lifestyle

Jambu Batu: Jenis, Kandungan Gizi, Manfaat, dan Tips Memilihnya

Jumat, 29 Agu 2025 - 21:59 WIB

Healthy Lifestyle

Arabika vs Robusta: Kopi Hitam Asli Mana yang Rasanya Paling Enak?

Kamis, 28 Agu 2025 - 09:01 WIB

Healthy Lifestyle

10 Manfaat Kopi Hitam Asli untuk Kesehatan Tubuh

Kamis, 28 Agu 2025 - 08:35 WIB